Learning From The Experience

saya mau menyerah, udah gak kuat ………………….give up ”
” sudahlah .. saya mengibarkan bendera putih saja “

Mungkin kalimat itu juga pernah diucapkan oleh orang lain, (bukan hanya saya), saat merasa diri sudah tidak kuat lagi menanggung sesuatu.


Sangat wajar untuk bersedih, merasa sakit.. bolehlah selama 5- 15 menit untuk kita mengizinkan diri sendiri menangisi atau meratapinya (maksimal 1 hari saja, itu juga spt nya sdh lebih dari cukup) – tapi setelah itu, hapus sedu sedan itu ( with chairil anwar style)  kembali berdiri, dan bangkit.

Jika dipikirkan secara jernih, ada sesuatu yang penting dan seharusnya selalu kita  ingat , “Bukankah Tuhan sudah mengukur dengan tepat ujian yang diberikan kepada hambanya , sesuai dengan kemampuan hambanya itu ? karena Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang, pasti tidak akan dzalim “. Diberi ujian karena Tuhan sayang ke kita, menginginkan kita  “naik kelas” dengan ujian tsb.

Dan bagaimana jika kita terlambat menyadari suatu kesalahan dan kita sangat menyesalinya ?
Biasanya kalimat penghibur 1 : masih mending nyadar sekarang daripada tidak sama sekali? masih ada kesempatan untuk memperbaiki.
Kalimat penghibur ke 2 : JiKa dinilai sudah jadi bubur, jangan dulu buru2 dibuang, tapi bisa ditambah dengan seledri, ayam dll sehingga bisa jadi bubur ayam yang nikmat ( dikutip dari ceramahnya AA Gym)

Intinya, jika salah dan jatuh, sepertinya sikap yang bijaksana adalah berusaha secepatnya untuk bangkit lagi. Bagaimana seorang anak kecil yang sedang belajar berjalan dan terjatuh memutuskan untuk tidak mau berdiri dan mencoba berjalan lagi, dijamin sampai besar anak itu tidak akan bisa berjalan dg baik.

Pengalaman itu yang akan menguatkan kita (semoga). Jadi, tidak masalah berapa kali harus jatuh, yang jelas, setelah itu  harus bangkit kembali. Seperti iklan salah satu detergent “Gak kotor, ya gak belajar “. Tapi jangan diniatkan dari awal untuk kotor duluan juga. .. berabe ..

Selamat menjadi manusia pembelajar, baik di sekolah formal, maupun di sekolah kehidupan, karena setiap tempat adalah sekolah bagi kita, dan setiap orang adalah guru bagi kita ( dikutip dari buku yang sudah lupa judulnya apa) .

Just feel the experience – alias dinikmati saja … karena badai pasti berlalu (seperti judul lagu Chrisye).  Pasti akan ada akhirnya. Pasti ada akhirnya, tidak akan selamanya begitu. Sabar dengan ujian kesusahan , dan bersyukur dengan ujian berupa kesenangan

ooOOoo

Ditulis oleh orang yang sering “jatuh-bangun”, namun mencoba untuk terus belajar dari apa yang dialami. Terimakasih untuk orang-orang disekeliling saya yang selalu membantu untuk bangkit lagi jika saya jatuh. Saya menyayangi kalian semua …

Untuk mengalami hal yang sama … Selamat Belajar🙂 semoga tulisan ini bermanfaat.

2 thoughts on “Learning From The Experience

  1. Anak2 jalanan dari kecil sudah menderita. Makan tidur tak jelas, tidak ada ortu, tinggal di lingkungan yang keras, tanpa pendidikan dll. Kalau ujian yang kita dapat adalah sesuai kemampuan kita, berarti mereka adalah orang2 yang kemampuannya lebih tinggi dari kita?🙂

  2. Good Question Med …
    Ya kadang aku juga bertanya begitu, anak-anak jalan, pengemis, gelandangan, mereka tidak request minta keadaan seperti itu, tapi kog jadi begitu ?

    “Hidup itu pilihan” … ada faktor usaha manusia juga disitu. “Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum tersebut mengubah nasib nya sendiri”. Seberapa besar usaha kita untuk mengubahnya ? Yg jelas Tuhan pasti adil lah …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s