Dalam diam Diya bertanya

“Tuhan, apa ini akhirnya cuma jadi cerita antara kita berdua?. Ada banyak yang ingin saya sampaikan ke orang lain, tapi kenapa semuanya tersangkut di tenggorokan ? “


Diya menghela nafas panjang sebentar, kemudian kembali  meneruskan doanya

“Tuhan, saya tidak tahu harus bersikap seperti apa . Daripada salah, apa lebih baik dihindari saja Tuhan, pura-pura tidak tahu, anggap saja itu tidak pernah ada ?. Lebih baik saya diamkan saja ?  Tapi kenapa  terasa menggumpal di dada ini , rasanya tidak enak Tuhan. Benar Tuhan… saya benar-benar tidak tahu harus bersikap seperti apa. Tolong saya …

“Diiiiiii……. adaa telepoooonnn … teriak Bu Ija dari bawah, dari Nita ….”

“Iiiiyyyaaa Buuuu.. nanti saya telpon baliiikkk.”. Diya sedikit berteriak menjawabnya dari dalam kamar.

Tuhan … jangan bosan mendengar cerita-cerita saya ya. Tuhan, tolong beri petunujuk Mu  ya. Maafkan saya kalau ceritanya nanti  isinya kesalahan-kesalahan  yang dilakukan berulang-ulang karena kebodoh an saya ..Ampuni ya Tuhan…. Amiinnnnn ….

Diya melipat mukena nya, bergegas kebawah menuju telpon dan menekan beberapa nomor …. dan dari ujung pesawat telpon , terdengar nada sambung, dengan sabar Diya menunggu teleponnya diangkat….

-bersambung-

One thought on “Dalam diam Diya bertanya

  1. Pingback: Dalam diam Diya bertanya (2) « What I Feel-Think-Do

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s