Dalam diam Diya bertanya (3)


(sebelumnya)

Surat Tugas – Diyati Atmaja-Kalimantan-Suku Dayak-Empat hari.

Itu keywords yang diperolehnya hasil scanning pada selembar kertas yang ada di meja kerjanya.

“ok, masih ada satu hari untuk bersiap-siap”.

Pukulan sedikit keras mengagetkannya.

“Di, kemana lagi nih sekarang … jalan muluuu …”, oooo sekarang ke Kalimantan”, sambil merebut kertas yang masih dipegangnya.

“Eh,  si bos ada gak, mau ngasi laporan nih .. “

“Lagi keluar kayaknya … “

“Ya udah deh, titip ke Pak Adit aja laporannya ya, sekarang gw cabut mau nyari Eko, mau koordinasiin ntar berangkat ke Kalimantannya  gimana …”

Diyati Atmaja – Wartawan

Perasaannya serasa terbang saat pertama kali  dia menggunakan name tag itu, mengalungkan  ke lehernya. Diejanya berkali-kali beberapa suku kata itu, dan senyum sumringah menghiasi wajahnya selama tugas pertamanya meliput suatu  kegiatan diskusi nasional di Jakarta. “Saatnya gw ngeliput, nulis, dan laporin. w a r t a w a n”.

Diterima- Jurnalis Broadcasting – Diyati Atmaja

Perasaannya juga serasa  terbang kelangit saat namanya tertulis sebagai salah satu mahasiswa yang diterima di fakultas ilmu komunikasi disalah satu universitas ternama di Indonesia. Senyum sumringah menghiasi wajahnya selama perjalanan pulang ke rumah. Ingin rasanya detik itu juga bisa sampai dirumah untuk mengabarkan berita gembira itu ke orang tuanya.

“Yakin Di, kamu milih ini ? “

“Oh jelas Ma, kerjaannya enak, bisa jalan-jalan gratis ke banyak tempat, foto-foto, nulis dikit, dibayar, selesai …”  “Wah, gw harus bisa maksimal ngeyakinin mereka nih, kalau mereka gak setuju, berabe juga , ntar kalau gw kuliah siapa yang bayarin ??? “

” Gak tertarik jadi dokter, atau insinyur gitu Nak? “

” Ma, pekerjaan jurnalis itu sama bergengsinya dengan dokter atau insinyur, malah lebih enakan jurnalis, bisa pergi ke banyak tempat … banyak daerah .. Dokter .. yah berkutat dengan pasien … malam2 pintu rumahnya diketok2, atau ditelpon dari rumah sakit karena ada pasien yang sekarat, kasian kan … Insinyur .. waaahh lebih parah lagi… berkutat dengan rumus2, hitungan2 … Di gak bakat deh Ma kalau musti gitu … “

Tuhan, maafin saya ya … saya tidak bermaksud menjelek-jelekkan profesi dokter atau insinyur , profesi mereka mulia kog.. saya cuma pengen ngeyakinin orang tua  kalau pilihan saya ini juga gak kalah hebatnya sama yang lain … Gapapa ya Tuhan ya ?

Jadi gimana Ma ?? Bisa lanjut daftar kan ??

00OO00

“Penumpang pesawat dengan nomor penerbangan Y143 tujuan Banjarmasin dapat menaiki pesawat sekarang”

Suara panggilan penumpang itu menghentikan lamunannya. Diya bergegas mengambil tas ransel, dan kamera, kemudian berdiri dan berjalan mengikuti langkah teman se tim nya  yang sudah duluan berjalan menuju pesawat yang akan menerbangkan mereka ke  pulau Borneo.

-bersambung-

 

 

 

One thought on “Dalam diam Diya bertanya (3)

  1. Pingback: Dalam diam Diya bertanya (4) « What I Feel-Think-Do

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s