Dalam diam Diya bertanya (4)

<< sebelumnya >>

Hidup ini jangan serba terlalu
Yang sedang-sedang saja
Karena semua yang serba terlalu
Bikin sakit kepala …

Lagu dangdut jaman 90-an, diputar di tape yang sepertinya juga dibuat dijaman 90-an mengiringi perjalanannya menuju pedalaman kampung Dayak Bakumpai menetap.

“Sepertinya lirik lagunya ada benernya juga nih. pertengahan itu sepertinya lebih baik daripada ekstrim kiri atau kanan. orang yang “tengah”.. boleh juga … “

Pikirannya berseliweran bebas sambil sesekali badannya ikutan berguncang kecil karena jalan tanah tidak rata yang dilalui oleh mobil yang mereka tumpangi.

Di, jangan lupa makan … Sepertinya suku dayak enak-enak deh masakannya

Di, jaga diri ya disana, ingat pulang !!!

Di, jangan lupa oleh2 ya, bawain satu orang dayak yang “original” ke jkt pas pulang ya … atau minimal senjata mandaunya deh …

Sambil tersenyum kecil Diya membaca beberapa komentar teman-temannya yang masuk dari tweetnya yang hanya menuliskan @Banjarmasin.

“Bener banget tulisan Thomas L. Freidman- emang dunia udah datar, “

Mobil terus melaju dan memasuki hutan belantara .. Sekarang yang terlihat dikiri kanan jalan hanya pohon yang diselingi suara jangkrik, suara angin, suara burung. Semuanya terdengar indah di telinga Di. Seakan tak mau melewatkan suasana ditengah-tengah hutan tropis itu, Di membiarkan saja angin menerpa wajahnya.

“Jarang-jarang nih bisa begini, mumpung di sini, nikmati … “

Benar Di, ini pilihan mu ?? Kamu sedang tidak membohongi diri sendiri kan, atau ini pelarian ??? “ Tiba-tiba dari salah satu sudut hatinya angkat bicara..

“Aduh,,, Tuhaaaan … toloooong….. Hilangkan suara itu … Tuhan… Sepertinya cukup jadi rahasia kita berdua saja ya…saya bakalan simpan walau sampai jadi menggumpal di dada”

“Di…. Udah nyampe.. Tuh didepan kita perkampungannya udah keliatan”. Suara Eko, si juru kamera tim mereka mengagetkan lamunannya.

“Oh ya sip “… Dengan sigap Di meraih tas ransel dan kameranya.

“Ok, saatnya bekerja …”

-bersambung-

4 thoughts on “Dalam diam Diya bertanya (4)

  1. sekarang jadi seneng nulis cerbung Pit?

    Hmmm… aku emang gak qualified buat jadi kritikus cerbung sih, tapi boleh juga Pit ceritanya, minimal aku jadi tertarik buat ngikutin, he3😀

    • Iseng aja🙂, hitung2 pelarian dari nulis jurnal, paper yg musti runut, terstruktur dan baku itu. Kalau cerita fiksi, mau dibolak-balik ceritanya kayak apa kan sah2 aja🙂

      Terimakasih sudah tertarik ngikutin ceritanya. Penilaian temanku yang juga penulis cerita pas kuminta baca, katanya “kalaun buat pemula, ya lumayan, cukup bagus🙂 .. Hehehe”

  2. wah, sepertinya tokoh diya di sini keinginan terpendam nih😛
    lanjutkan mbak.. gak sabar untuk kelanjutnya..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s