Dalam diam Diya bertanya (5)

“Ini  Mandau, salah satu senjata kami, jaman dulu biasanya kami gunakan untuk berperang, tapi kalau sekarang sudah tidak. Ini menjadi benda pusaka suku Dayak. “

Penjelasan yang sangat lengkap dari Pak Djatta,  lelaki  paruh baya yang  masih memiliki garis keturunan Dayak. Pak Djatta menjadi  pemandu, penterjemah, yang juga merangkap sebagai supir dari Banjarmasin ke pedalaman Barito Kuala tempat mayoritas dayak Bakumpai menetap.

Di mengambil mandau dari tangan Pak Djatta dan memegang mandau itu dengan penuh kekaguman, memperhatikan dengan seksama setiap detil  ukiran senjata yang terbuat dari batu gunung itu.  Tiba-tiba Di merasakan  sesuatu yang dekat antara dia, rumah bubungan yang sedang mereka kunjungi dan senjata itu. Merasakan yang ada disekitarnya  bukan hal yang asing baginya.

Tuhan, perasaan apa ini ??? saya baru sekali kesini, belum mengenal siapapun disini … tapi kenapa saya merasa  tempat ini sepertinya dekat dengan saya ??

“Hati-hati Di … itu tajam, megangnya kayak megang boneka, norak ah .. setengah berbisik Eko mengingatkannya ..

“Tenang aja … gw tau mana yang senjata tajam mana yang boneka .. loe yang norak, nyamain senjata dengan boneka …” Di melirik ke Eko sambil sedikit mecibirkan mulutnya. Tapi tanpa sadar, tangannya bergerak turun. Tajamnya Mandau itu sedikit merobek kulit jari Di dan darah pun mengucur keluar ..

“Tuh kan kualat… loe sih .. dibilangin ngeyel .. rasain.. sakit kan … Darah itu merah jendral !!!

“iya gw tau … gw salah .. tapi bantuin dikit napa, tolong ambil obat merah di tas gw dong, dibagian paling depan …”

“Males gw bantuin orang yang ngeyel … ” tapi Eko tetap berjalan ke arah tas Di yang tersandar di pintu masuk rumah bubungan, rumah adat suku Dayak yang sedang mereka kunjungi.

“Hukum sebab akibat itu berlaku… kalau loe berbuat baik .. loe bakalan dapat kebaikan juga …Sini, gw aja yang netesin langsung, loe suka gak ngira2 kalau netesin sesuatu”. Sambil menjulurkan tangan kanannya Di menerima obat merah dari Eko dan bersiap untuk meneteskan ke tangan nya yang luka.

Waduh.. sakit juga ternyata. Di sedikit meringis saat tetasan cairan iodium itu mengenai lukanya. Ayo dong… trombosit2 ku..bekerjalah…bekukan darahnya….


Setelah informasi yang dikumpulkan cukup,mereka meninggalkan rumah bubungan  dan meneruskan perjalanan ke rumah-rumah penduduk  yang ada disekitar sana.

Si kueh asal lebu uluh bakumpai te?? ” Seorang perempuan tua yang berjalan berpas-pasan dengan mereka menatap Di dengan tatapan seperti baru menemukan seseorang yang telah lama hilang.

Di melirik ke arah Pak Djatta. Seakan mengerti dengan maksud  pandangan Di, Pak Djatta membalas pertanyaan Ibu tua itu.  ” Jida, mereka beken uluh si-hetuh. Mereka bara kota, kejaw…

Ibu tua itu tetap menatapnya lekat-lekat, sambil sesekali mulutnya mengucapkan beberapa kalimat yang tak dimengerti oleh Di …

Pak Djatta kembali menterjemahkan kalimat yang terdengar asing  di telinga Di. “Ibu ini mengira kalian adalah orang Bakumpai juga, dan juga bilang bahwa ukek Diya mirip dengan seseorang, istri ketua adat disini yang sudah meninggal 25 tahun yang lalu”

Dengan setengah berbisik Eko menkaut-nakuti Di “ jangan-jangan loe reinkarnasi penduduk disini Di … iiiihhh ….takuutt “

Di tersenyum ke arah perempuan tua itu. “ya tidak apa-apa… kan cuma kebetulan Bu … mari, kami lanjutkan perjalanan kami dulu ya Bu … “

Dengan fasih Pak Djatta melaksanakan tugasnya menterjemahkan kalimat Di dengan lengkap .. dan mereka pun berlalu …

Saat akan memasuki salah satu rumah penduduk, Di menoleh ke belakang, dan perempuan tua itu masih tetap berdiri memperhatikannya . Siapa ibu itu ?? kenapa saya merasa pernah melihatnya, tapi di mana ???? ” ah deja vu, abaikan saja ….


-Bersambung-

2 thoughts on “Dalam diam Diya bertanya (5)

  1. PASSION and PERSISTENCE are two main keys to success in conducting QUALITY ACHIEVEMENT.

    Untuk,edisi ini sudah lumayan.yang perlu lebih ditingkatkan:diksinya masih agak kurang menggigit,alurnya ‘agak bisa ditebak’ dengan indikasi kalimat ( Pak Djatta kembali menterjemahkan kalimat yang terdengar asing di telinga Di. “Ibu ini mengira kalian adalah orang Bakumpai juga, dan juga bilang bahwa ukek Diya mirip dengan seseorang, istri ketua adat disini yang sudah meninggal 25 tahun yang lalu”) shg lebih baiknya pak jatta tdk usah menterjemahkan biar jadi rahasia mrk orang dayak dulu,baru di endingnya setelah mengalami ‘sebuah kejadian luar biasa’ yang solusi satu-satunya adalah wajah di yang mirip seseorang itu dst dst…kayaknya lebih seru…
    btw, semangat…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s