Tausiyah On The Road

Perjalanan mudik tahun ini sedikit berbeda dari biasanya. Sepanjang perjalanan dari Duri ke Pekanbaru saya jadi pendengar setia pengalaman-pengalaman sarat pelajaran berharga dari pak supir travel yang kebetulan saya tumpangi. Sepanjang perjalanan, cerita bergulir dari A-Z antara penumpang dan dia. Sepertinya dia orang yang cepat mengakrabkan diri dengan orang lain.Cerita yang disampaikannya ringan tapi sarat makna. Sesekali saya ikut menimpali jika dia bertanya sesuatu. Selebihnya, saya lebih menghayati dan menyimpannya ke pikiran dan hati untuk setiap hikmah yang dia sampaikan. Beberapa ceritanya yang sampai saat ini saya ingat diantaranya :

“Saya pernah bekerja di perusahaan XXX, di unit itu termasuk t4 “basah”. Gampang mendapatkan uang dari menjual barang2 perusahaan yang kecil-kecil dan tidak terperhatikan. Saya pernah menjual oli, solar, kawat tembaga, kabel dan lain-lainnya. Penghasilannya lumayan, hampir sama seperti gaji bulanan saya. Tapi saat anak saya sakit paru-paru dan harus lama diterapi, saya sepertinya ditegur Allah karena saya ngasi makan anak istri dg uang yang tidak halal. Setelah itu saya minta dipindahkan ke bagian lain yang godaannya tidak banyak”. Jadi sejak saat itu saya memutuskan tidak masalah uang yang saya bawa pulang sedikit asal itu halal.

#Subhanallah Pak, kalau banyak orang ini berprinsip sama seperti Bapak, sepertinya akan jarang terdengar berita tentang korupsi

” Kenapa pelan-pelan Pak, jalannya kan sepi, dan lurus lagi, gak banyak tikungan tajam ?? ” Itu pertanyaan saya saat kami melewati jalan komplek perumahan chevron.”Aturannya memang seperti ini, disini hanya boleh 70 km/jam. Saat saya minta tolong ke teman untuk dibuatkan perizinan supaya bisa lewat di jalan komplek ini, saya sudah janji patuh dengan aturannya. ini kan amanah, jadi harus dijaga. Kan gak enak kalau saya yang ngelanggar aturan tapi teman saya yang kena tegur.”

#Subhanallah [lagi] Pak, dirimu mengajarkan supaya jadi orang yang amanah”

“Masih sekolah atau sudah bekerja di Bandung dek?” … “Sudah bekerja Pak..” .. Oh syukurlah, baik-baik disana. Kejar setinggi-tingginya, tapi jangan sampai jadi sombong. Urusan dunia lihatnya kebawah aja, supaya jadi bisa bersyukur. Tapi untuk urusan akhirat, selalu lihat keatas.

#ya siap Pak !!!. Secara proporsional melihat ke atas dan ke bawah nya🙂

“Kalau untuk masalah berbuat baik, tidak perlu diingat-ingat, cukup ingat kejelekan yang terlanjur kita lakukan ke orang lain dan kebaikan orang lain ke kita”

# Ya sekali lagi siap Pak !!!. Saya bikin default otak ini sudah penuh jika harus mengingat kebaikan yang sudah dilakukan ke orang lain, tapi selalu tersedia space kosong yg banyak untuk mengingat kejelekan saya pada orang lain.

Perjalanan pulang itu jadi tidak terasa, tau-tau saya udah nyampe aja🙂 “Terimakasih untuk semua nasehat-nasehatnya Pak”. Nanti kalau suatu saat saya pulang lagi, saya akan hubungi travel si Bapak itu lagi, semoga kita bisa ketemu, dan saya bisa belajar dari pengalaman hidupnya yg sarat pelajaran itu

Belajar bisa dimana dan kapan saja dan guru itu bisa dari siapapun. (Anonim-Lupa judul buku kutipannya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s