Dilema Protes Masal

Heeeyyy, .. Wait..wait..sudah sangat tidak nyamankah kalian sampai-sampai harus menunjukkan aksi protes besar-besaran begini ? Kenapa banyak yang keluar dari rumahnya ?? Siapa provokatornya ?

Apakah aku sebagai pihak pengelola tempat tinggal kalian kurang memberikan perhatian sampai harus unjuk rasa meminta perhatian ku. Aku kah penyebab utamanya ? Ok..ok.. Kalau ini salah ku, aku minta maaf. Benar, tidak pernah terlintas sedikitpun niat untuk menelantarkan kalian. Mungkin kondisi yang memaksa jadi begini. Tolong sedikit dimaklumi, walau itu sebenarnya alasan yang klasik.

Jadi, bagaimana kalau kita berdamai saja … Kita selesaikan dengan musyawarah mufakat ?? Kutawarkan perhatian ekstra ke kalian, dan kalian berhenti berunjuk rasa. Sudah terlambatkah kah ??? Apakah kalian sudah terlanjur mengeluarkan mosi tidak percaya padaku ?? Aku sangat berharap kalian betah tinggal, tumbuh, berkembang dengan baik. Bukankah itu simbiosis mutualisme bagi kita?? Aku sangat suka melihat kalian yang kuat, terus berproses sambung-menyambung menambah rantai koloni kehidupan.

Ok, jika kalian protes begini terus, maaf, aku gak punya pilihan lain. Dengan mempertimbangkan usulan orang2, hak veto dan kediktatoranku sebagai induk semang kalian, aku putuskan memperpendek siklus hidup kalian semua, tanpa pandang bulu, tanpa pilih kasih, tanpa tendeng aling2. Selesai negosiasinya, tidak ada kata sepakat. Hari ini Kubawa kalian ke ‘tukang jagal’.

Tapi ketahuilah, sebenarnya ini sangat berat bagiku. Suara hatiku bilang kalian ingin terus ku pertahankan. Sedih melihat kalian berguguran ditangan pemotong yang sibuk mengimplementasikan metodologi shagi nya, sesuai dengan yang ku request. Mendadak aku jadi ingat ayahku yang selalu marah jika aku melakukan ini ke kalian. Tidak indah katanya. “Sayang Nak..pada perempuan, mereka akan terlihat lebih indah saat mereka diberi kesempatan untuk terus tumbuh memanjang”. Dengan segala kecuekan ku dan dengan segudang alasanku: gerah, panas, gak bisa ngurus kalian dengan baik, itu bisa jadi legal, walau versi legal setengah hatinya. Tapi entah kenapa, sekarang, aku berperasaan sama dengan ayahku😦. Tidak tega. Tapi ya bagaimana lagi, aku gak punya pilihan lain, kalian sih unjuk rasa terus ..

Untuk menghiburku, ku kutip sebuah teori kependudukan, jika jumlah penduduk terkendali, maka pemerintah akan bisa lebih “care” dengan rakyatnya. Diharapkan semua penduduknya mendapatkan kemakmuran. Ku gunakan juga teori itu ke kalian. Semoga dengan begini, perhatianku bisa maksimal, jumlah yang berunjuk rasa berkurang, dan kemakmuran bisa kalian dapatkan. Demi kebaikan kita semua….. Jika semuanya membaik, aku janji, ku beri kesempatan seluas-luasnya dan sebesar-besarnya untuk mengekspresikan kehidupan dengan terus tumbuh memanjang. Janji🙂

dan heeeeyyyy …. ternyata hasilnya terlihat lebih ‘fresh’ lagi😀. (#tidak ada yang berhak membantah jika ada yang keberatan. Claim thdp diri sendiri itu bersifat mutlak🙂 )

Dan yang paling pentingnya lagi, aku belajar bahwa masing-masing yang ada di diri ada porsinya, ada haknya, ada kebutuhannya. Jadi penuhilah kebutuhan masing-masing dengan adil, seimbang dan proporsional (supaya tidak ada kejadian protes masal begini). Ku anggap ini pelajaran untuk tidak mengabaikan diri sendiri.

#sepenggal kisah pergolakan batin yang terjadi di siang ini.

3 thoughts on “Dilema Protes Masal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s