Curhatan Seorang Dosen Wali

Sebagai dosen wali, setiap akhir semester biasanya adalah saat-saat untuk mengevaluasi hasil perkuliahan mhs walinya. Hari ini, sebagai dosen wali saya berbicara dengan dua orang tua mhs wali saya untuk menyampaikan hasil evaluasi perkuliahan anaknya. Biasanya mhs yang ‘butuh perhatian lebih’, orangtuanya akan saya hubungi langsung, dengan tujuan agar mereka tidak terkaget-kaget jika suatu saat mereka dapat berita yang lebih buruk lagi. Tujuan lainnya, semakin cepat diketahui, semoga semakin cepat juga tindakan perbaikannya.Entah kenapa mendadak saya jadi mellow untuk masalah ini, dan saya ingin curhat panjang tentang ini disini, hitung-hitung berbagi kegalauan saya sebagai dosen wali. Kalau kebetulan yang baca adalah mhs, tolong “don’t try this at your study”. Lakukan versi kebalikannya dari kasus yang ada disini, dan bikin orangtua kalian bangga dengan hasil kuliah kalian. Kalau kepanjangan, mau di skip juga gppūüôā

Jujur, perasaan saya campur aduk saat menyampaikan berita buruk hasil kuliah mhs wali saya ke orangtua mereka. Ada perasaan sedih, kasihan, marah. Semuanya campur jadi satu. Jika saya di posisi sebagai orangtua yang mendapat kabar anaknya tidak mengikuti kuliah dengan baik, semua nilainya di semester tersebut E, tidak pernah hadir kuliah padahal ngaku ke orangtua hadir terus kuliah, terancam DO, sepertinya ada batu besar yang jatuh tepat di kepala saya. “Aduh Nak, kenapa kamu bikin masalah begini”.¬† Mungkin itu kira-kira yang terbersit pertama kali di kepala mereka. Saya membayangkan masalah mereka ada banyak, sekarang masih ditambah lagi dengan masalah kelakuan anaknya yang membuang kesempatan, menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikan. Ditambah lagi dengan perasaan kaget dan kecewa ‘ternyata saya dibohongi oleh anak sendiri’ karena apa yang disampaikan oleh anaknya bertolak belakang dengan yang disampaikan oleh dosen walinya.

Beragam tanggapan yang saya terima saat berdiskusi dengan orangtua mhs wali saya. Ada yang menanggapinya dengan bijaksana. Ada yang menyikapinya dengan berbalik menyalahkan, atau ada yang sudah pasrah saja dengan ‘nasib’ anaknya. Namu saya jadi belajar banyak hal dari sini. Saya jadi bisa membuktikan secara langsung ‘teori’ tentang kasih sayang orangtua ke anaknya. Yang namanya orangtua ke anak, tetap selalu ingin melihat anaknya berhasil, selalu siap mendukung anaknya, selalu siap memaafkan anaknya, walau berulang kali si anak mengecewakan dia. Saya menyebutnya kasih sayang yang¬† tanpa syarat. Sayang, anaknya aja yang gak sadar betapa mereka sangat disayang oleh orangtuanya. Untuk masalah ini, saya sangat berempati dengan orangtua wali saya. Saya memihak mereka.

Sekarang, point of viewnya berpindah ke sisi mhs nya. Sebagai dosen wali, saya juga dibohongi oleh mereka. Diawal semester, dengan sangat jelas saya mendengarkan janji-janji mereka. “Saya janji akan perbaiki di semester ini Bu”. ” Ya bu, saya gak akan sia- siakan semester ini” dan banyak¬† kalimat janji lainnya. Saya pun¬† sama, ingin memberikan kesempatan ke mereka untuk membuktikan komitmennya. Tapi, sepertinya yang saya dengar itu adalah ‘janji palsu’. Di akhir semester saat melihat hasil studi mereka : “loh…, kenapa tetap E semua? . ,Masih berharap “jangan-jangan dosenya belum input semua nilai”, tapi setelah dikonfirmasi langsung ke dosennya dan mendengarkan pernyataan ‘memang anaknya gak pernah datang kuliah kog, gak pernah ngerjain tugas, jadi ya memang segitu nilainya”, harapan itu langsung hilang. Cuma ada satu kata yang merepresentasikan perasaan saya ke mhs wali saya untuk kasus itu : kecewa.

Belajar dari kejadian ini, hikmah yang saya ambil :
1. Tidak semua keinginan orangtua harus dipaksakan ke anaknya, walau itu dinilai baik oleh mereka.
Beberapa alasan yang pernah disampaikan oleh mhs wali saya saat ditanya ‘kenapa kamu gak serius dengan kuliahmu?’, jawabannya adalah ‘sebenarnya saya gak terlalu tertarik kuliah di jurusan teknik Bu, saya pengennya seni. Orangtua saya aja yang pengen saya kuliah disini, jadinya saya ikuti aja’. Memang terdengarnya agak klasik, tapi yang namanya kemauan, keinginan, ketertarikan pada suatu bidang, itu bukan hal yang sepele untuk bisa diabaikan begitu saja, karena yang akan menjalaninya adalah mhsnya sendiri. Kalau dimulai dari keterpaksaan, ya wajar kira-kira seperti itu hasilnya.

2. Memanjakan anak itu bukanlah wujud sayang orangtua ke anaknya. Saat berdiskusi dengan orangtua, banyak yang menyampaikan ‘padahal saya sudah ikuti semua kemauannya’, minta a, b, c, semuanya saya kasi, eh ternyata uangnya dihabisin buat foya-foya, main-main, bukan buat kuliah.¬† Saat dengar pengakuan seperti ini, ingin rasanya saya bilang ke anaknya “eh balikin lagi tuh duit orangtua yang kalian salah gunakan”

3. Berfikir lebih jauh ke depan sebelum melakukan sesuatu, karena kita sendiri yang akan memetik buahnya. Sepertinya ini yang kurang dari mhs wali saya yang butuh perhatian ekstra. Saat ditanya “kenapa tidak datang kuliah? “, “kecanduan main game bu, jadi gak kepikiran kuliah”. “ketiduran bu, karena malambya sering begadang, bareng¬† teman, “malas bu” … dan beragam alasan lainnya yang bikin telinga saya jadi malas mendengarkan alasan-alasannya.¬† jika hasilnya E semua, baru bilang ‘ Bu, apakah saya masih bisa dibantu?’ aduh nak, kamu telat sadar. Bagaimana saya bisa berempati ke kalian jika kalian seperti itu?. Tega membohongi orangtua sendiri, tidak merasa bersalah membuang-buang waktu yang ada, menyia-nyiakan duit orangtua, tidak berani mempertanggungjawabkan hasil perbuatan kalian sendiri. Coba bantu saya dengan memberikan pertimbangan yang bisa ‘meringankan’ dosa-dosa kalian itu?

Yah seperti itu suka dukanya. Sampai sekarang saya masih teringat dengan dua orangtua yang saya hubungi siang tadi untuk memberikan kabar buruk tentang hasil kuliah anaknya. Mungkin sekarang mereka sedang berembuk, untuk memikirkan dan memutuskan sikap mereka. Semoga keputusan yang terbaik buat semuanya ya Pak, Bu….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s